Monday, June 25, 2007

Naik sepur

Sepur, yang konon asal katanya dari bahasa Belanda SEPOOR artinya adalah "jarak diantara dua rel".Maksudnya adalah sepasang rel adalah 1 sepoor.
Entah bagaimana ceritanya sepoor bisa diartikan menjadi kendaraan yang melewati diatas sepoor dan sekarang lebih sering disebut Kereta Api.
Penyebutan "Kereta Api"-pun layak menjadi pertanyaan di jaman sekarang, karena dulu diberi kata api karena sang sepur masih menggunakan areng stinkol alias batu bara sebagai penggeraknya.
Sehingga di Loko alias kepala kereta ada dapur yang hitam legam dan sang masinis beserta crew-nya kulitnya tak pernah lepas dari angus batubara.
Sekarang dengan mesin diesel yang tak tampak apinya, sebutan "Kereta Api" mungkin juga masih lebih baik daripada kereta diesel.Karena masih banyak kendaraan lain yang bermesin disel-pun tetap disebut dengan mobil, prahoto, otopet dan lain-lain.
Hampir 5 tahun, atau seusia si bungsu tak pernah naik kereta api.
Bukan karena sudah kaya dan punya mobil sendiri sekelas mitsubishi minicab jadi tak mau naik kereta.
Tapi lebih karena kepraktisan, dan hemat biaya.
Maklum, bepergian bersama anak-anak bawaan yang terberat adalah segala macam perangkat mereka.
Dari pakaian ganti, perlengkapan mandi, sampai makanan dan minuman.
Dahulu, bila akan pulang ke Kalibaru di Banyuwangi, naik kereta jadi andalan.
Apalagi ketika masih beranak satu.

Dengan biaya yang sangat murah, hampir separoh dari ongkos bis membuat menunggu jadwal kereta yang lebih sering molor tak dihiraukan.
Bahkan, saat itu perjalanan dari Banyuwangi ke Kalibaru harus berhenti disetiap setasiun yang kecil sekalipun, khususnya di jalur Jember - Banyuwangi.
Diantaranya Setasiun Arjasa, Kotok, Kalisat, Ledokombo, Sumbersalak, Sempolan, Garahan, Mrawan dan Kalibaru.
Kalau mau ke timur lagi masih ada setasiun Sumberwadung, Kali Setail Rogojampi, Karangasem serta Ketapang di ujung.
Bayangkan hanya melewati 2 kota saja harus berhenti lebih dari 12 stasiun itu belum termasuk Stasiun Bangsalsari, Tanggul, Rambipuji dan Mangli yang ada di barat Jember, dan penumpangnya cukup banyak.
Karena rute yang dilalui wilayah pedalaman dan perkampungan perkebunan jauh dari jalur kendaraan besar.
Sehingga kereta api betul-betul jadi andalan bai mereka untuk bepergian.
Di dalam kereta yang dahulu bernama Blambangan, dengan rute Probolinggo - Banyuwangi ini yang namanya masyarakat menjalankan roda ekonomi, tak henti-hentinya beroperasi.
Mulai dari tukan ngamen, penjual buku, koran, makan ringan, rokok, minuman dalam botol bahkan minuman dalam gelas yang menggunakan bordes sebagai restorasi pun ada.
Yang paling menarik adalah penjual nasi pecel di stasiun Garahan, yang terkenal pedas dan harganya sangat murah hanya 2000
Setahun yang lalu Harga tiket Leces - Kalibaru yang berjarak 140 KM hanya Rp 5.000,-, sedangkan sekarang namanya berubah menjadi kereta PROBOWANGI, harga tiket agak naik menjadi Rp 14.500.
Dengan tiket yang agak mahal, di beberapa stasiun kecil sang sepur tak berhenti.
Perjalanan dari Leces - Kalibaru yang harus melalui jalur berkelok-kelok dengan pemandangan sawah, kebun tembakau dan gudangnya, penambangan batu ceper untuk hiasan dinding, perkebunan pinus, damar, karet. kopi dan lainnya pun jadi tidak membosankan.
Dan yang sensasional harus melalui 2 buah terowongan yang ada sejak jaman Belanda di wilayah Mrawan yang menusuk gunung gumitir.
Sekarang terowongan jadi tidak angker lagi karena dicat dengan warna-warni, karena juga sebagai salah satu tujuan wisata baagi turis manca negara.

3 comments:

Yuyung said...

Kalo naik sepur ke B Wangi jd ingt temen yang sdh Almarhum

lierieh said...

hehe... saya kira juga sepur tuh kreta api

Hartanto said...

wah beneran dicat warna warni Pak? pasti lebih menarik, dan bikin ga angker lagi.

Kalo disini sih bawa sepeda boleh dimasukkan ke sepur2. dan itu ada centelane dewe dekat pintu, dadine praktis.