Monday, April 02, 2007

Mak Nomo....

Di rumah kami ada seorang pembantu bernama Mak Nomo.
Sebetulnya usianya berkisar 50-an, tapi raut wajahnya tampak lebih tua dari usianya, karena beban hidup yang cukup membebaninya barangkali.
Sudah hampir 11 tahun beliau betul-betul membantu kami sekeluarga atau hampir seusia si sulung.
Jam kerjanya antara jam 6 pagi s/d jam 5 sore, mungkin tidak sama dengan pembantu di perkotaan. Kami berdua lebih senang memilih jasa pembantu yang tidak menginap di rumah, karena disamping rumah kami cukup lumayan terbatas, juga agar tidak tercipta ketergantungan yang berkelanjutan khususnya bagi anak-anak kami, karena kami memang hanya membutuhkan pembantu yang hanya membantu, dan bukan menggantikan peran kami sebagai tuan ramah atau sebagai pengganti orang tua bagi anak-anak kami.
Sekalipun demikian, dulu pernah disediakan sebuah ruang khusus untuknya beristirahat, akan tetapi karena jarang dipakai, ruangan itu sekarang menjadi gudang peralatan dapur.
Seminggu sekali kami memberinya kesempatan untuk libur, agar bisa menyelesaikan tugas di rumahnya, yang berjarak lebih kurang 2 km dari rumah kami, akan tetapi kalau mau menyisir lewat sawah jaraknya mungkin tidak sampai 1 km.
Uang lelah yang kami berikan pun sangat jauh dari upah minimum buruh yang ditetapkan instansi tenaga kerja.
Beberapa hari yang lalu ketika mendengar laporan dari anak-2 bahwa si sulung hampir memukulnya, kami berdua amat marah, karena kami tak ingin anak-2 tidak memiliki rasa hormat kepada orang tua apalagi itu adalah seorang pembantu.
Malam itu, si sulung juga merasakan penyesalan atas perbuatannya, dan bahkan dia tidak berani menginjakkan kakinya ke lantai bawah untuk menemui kami berdua.
Dan keesokan paginya, kami memberikan pengertian agar tidak mengulangi perbuatannya, dan bersedia meminta maaf kepada mak Nomo.
Ketika mak Nomo datang, dan langsung sibuk dengan segala macam tugasnya, mami mengantarkan Riefqy meminta maaf atas perilakunya, tangis mak Nomo tak terbendung dan kamipun juga turut merasakan begitu nelangsanya beliau ketika anak yang hampir 11 tahun diasuhnya nyaris saja memukulnya.
Ah ada-ada saja, mudah-2 kejadian ini tidak terulang, dan kami bisa mendidik anak-anak agar lebih berbudi dan hormat kepada orang tua.
Amien.

8 comments:

Laksono said...

betul mas, kadang memang ketergantungan sama pembantu sangat besar. anak kita jadi kurang mandiri.

wira wiri naek sepeda said...

weh .. fotonya - bersepeda :)

Wen Guang said...

Setuju..Ada baiknya sekali2 anak ikut membantu pekerjaan rumah tangga. Oya, silakan link saya Mas. Saya juga Link anda kok. Tq

Krisna Muslim said...

Mirip banget sama kita. Asisten kita juga cuma dari jam 6 s.d 5 sore. Hari minggu juga kita kasih libur. Bahkan seringnya kalo tanggal merah juga aku bilang gak usah dateng... biar hubungan kita dengan anak2 lebih deket dan anak juga lebih mandiri. Trus juga kita sediain tempat istirahat... yang akhirnya juga dipake gudang...

lierieh said...

Saya juga pake pembantu yg PP karena memang kami tidak ingin selalu tergantung padanya. Namanya juga pembantu tugasnya cuma bantu2 kita, bukannya hrs mengerjakan pekerjaan dari a-z. saya link ya...

Tukang Ketik said...

""Kami lebih senang memilih jasa pembantu yang tidak menginap di rumah, agar tidak tercipta ketergantungan yang berkelanjutan khususnya bagi anak-anak kami""

saya akan coba jika sudah menikah kelak

de said...

weleh, aku sampe melu mbrabak ki mas..

DenaDena said...

wah aku sampe melu mbrabak ki..