Tuesday, November 13, 2007

Buku saku anti kesasar

Mau jalan-jalan ke surabaya dengan kendaraan umum, ada sebuah buku saku (maksudnya pas masuk kantong) dengan kualitas yang lumayan meskipun sedikit sederhana.
Buku seharga seribu perak yang dibeli oleh seorang teman kala menaiki bis kota setahun yang lalu, bisa jadi bukan sesuatu yang dibutuhkan oleh warga surabaya sendiri khususnya yang sudah malang melintang menggunakan angkutan umum kelas bawah macam bus kota, bemo (begitu orang surabaya menyebut angkutan kota meskipun kini tak beroda 3).
Tapi bagi orang luar kota, atau jarang-2 menginjakkan kaki di kota terpanas di Indonesia ini teramat sangat berharga.
Apalagi bagi para turis maupun pembelanja yang ingin menghabiskan uangnya ataupun hanya untuk belanja jendela (window shoping-red).
Didalam buku berukuran 7 x 10 senti, dengan tebal 60 halaman didalamnya memuat beberapa informasi rute-rute diantaranya Bis Kota Bumel mulai ex DAMRI, Bis Partikelir maupun bis Patas maupun yang pura-2 Patas (ada yang tahu artinya Patas dan Bumel..??).
Pura-2 Patas maksudnya, namanya Patas tapi bisa naik turun disembarang halte.
Juga Rute si bemo yang tak mau berubah istilah meskipun kali ini sudah didominasi kendaraan sekelas Suzuki Carry, Daihatsu Zebra beroda 4 yang sudah agak baik bentuknya.
Bahkan beberapa tempat belanja yang terkenal di kota ini juga termuat nama dan isi dagangan utamanya.
Dan untuk menyebut daerah bisnis kuno di sekitar Masjid Sunan Ampel pun disebut dengan Ngampel, mungkin supaya lebih nyurabaya gitu.



Tidak hanya tempat belanja barang baru, bahkan tempat belanja barang bekas seperti mobil di Embong Macan, sepeda motor di Raden Saleh maupun penjual buku bekas di kawasan jalan Semarang, maupun barang bekas di sekitar Gembong dan Dupak.

Terlepas dari begitu banyak informasi yang belum tersampaikan, namun dengan harga seribu rupiah sudah bisa menjadi pemandu kita memasuki kota yang semakin lama semakin sesak ini.


Kalaupun perlu, ditambahkan juga ongkos/tarif angkutan juga boleh.
Meniru buku saku para turis ber-ransel yang sering kemana-2 naik angkutan umum membawa buku petunjuk yang sangat lengkap kala berada di Indonesia.

O.k tak tunggu cetakan berikutnya..../

4 comments:

andi bagus said...

wah lucu sekali ada buku saku utk surabaya..mas dhany ditunggu keikutsertaan nya dalam tugupahlawan.com..

Nico kurnianto said...

Bumel? Saya malah baru dengar tuch istilah bumel. Cuma kalau patas itu singkatan dari cepat terbatas. Jadi bisnya biasanya tertutup kalau penumpangnya udah penuh!(tapi menurut supirnya...he2x). Salam kenal juga cak! Ndak apa apa link blog saya di sini, nanti segera saya link kembali blog ini.

Anonymous said...

kebetulan saya naka design uk Petra sby.. berencana buat tugas akhir proyek bikin buku kayak gini.. tapi dengan target anak muda... semoga bermanfaat.. ijin pakai artikel sebagai refrensi.

Samsjul Hudha said...

siippp... monggo silahkan...
bebas tak terbatas