Sunday, August 19, 2007

cerita tercecer di kota batu


Ini sebetulnya posting yang harus publish pertengahan Juli lalu.
Namun karena tersimpan lama di draft, akhirnya tak terbuka sampai sekarang.
Masih ingat dengan posting Limanda yang lalu, ini rangkaian cerita sebelum menjemput ananda di Kota Batu.
Numpang dirumah sepupu yang letaknya dibelakang Jatim Park, pagi-2 bangun dan jalan-2 ngikutin orang yang bawa tas, dan sepertinya akan ke pasar.
Setelah melewati jalanan kampung yang naik turun dan jembatan bambu yang bergoyang-goyang. Ternyata tidak salah dugaanku, ibu berjaket putih itu memang ke pasar Batu yang emang sangat ramai dan berisik dengan suara mesin selep daging untuk pedagang bakso.
Disini tersedia bermacam-macam sayur mayur yang menjadi ciri khas hasil pertanian di dataran tinggi, maupun bentuk makanan lain yang aneh-2 bentuknya. Mulai dari tahu yang seukuran 20 x 20 cm (penggorengannya seberapa ya..?), maupun tempe yang tidak hanya dari kedelai bahkan dari kacang tanah pun ada.
Pagi yang dingin enaknya makan yang anget-anget, kebetulan dihalaman depan pasar yang sudah padar dengan pedagang ini ada penjual makanan tradisional Petulo namanya. Bentuknya serti getuk lindri yang terbuat dari tepung maizena dan diguyur dengan kuah santan kental nan manis sekaligus panas. Jadi hangat dibadan.
Pulangnya memborong bentol.. ini bukan merk rokok, tapi sejenis ubi-2an yang jadi brand rokok terkenal, dan belanjanyapun menggunakan tas berbahan bekas karung beras yang dijual seribuan.

3 comments:

andi bagus said...

ASIK JALAN2 NYA MAS..

pyuriko said...

Masih membayangkan bentuk makanan yang jarang di dengar.. seperti tempe dari kacah tanah,.. tahu yang berukuran besar, dan petulo???

hmmm... seperti apa bentuknya mereka???

penasaran

lierieh said...

keiknya yang namanya petulo enak juga tuh mas, boleh dong kirim kemari