Monday, September 10, 2007

Wayang kulit.



Waktu takziah ke Trengggalek, masuk ke kota yang posisinya terjepit di barat kota Tulungagung ini waktu menunjukkan pukul 3 pagi hari.
Sepertinya tak tepat harus mengetuk pintu, saat itu juga.
Maka, sambil menunggu matahari meninggi rencananya santai-2 dulu di alun-2 yang lokasinya hanya berjarak 500 mtr dari rumah paman.
Tapi di pagi yang dingin itu, suasana alun-alun sangat ramai, bahkan boleh dikata penuh sesak.
baik dengan stand penjual barang insidentil, maupun para pengunjung yang ternyata hari itu sedang digelar wayang kulit untuk memperingati hari jadi kota Trenggalek.
Rupa-rupanya anak-anak kami sangat antusias untuk melihat kesenian tradisional yang selama ini hanya mereka ketahui dari buku pelajaran.
Maklum, di Probolinggo rasanya sudah lebih dari 15 tahun tak pernah ada pagelaran seperti ini.
Dengan demikian diharapkan mereka semua sedikit mengetahui tentang kesenian tradisional yang sudah mulai tergerus perkembangan kesenian ala barat yang merajalela ditayangkan oleh televisi.
Kalaupun wayang kulit ada di tv, itupun waktunya sudah sangat larut dan jauh dari prime time tivi yang menghasilkan pemasukan dari iklan.
Mudah-2an juga, anak-2 bisa belajar dari hikmah cerita yang dibawakan oleh sang dalang.
Tapi ketika kutanya apa arti dari ucapan sang dalang. Mereka serempak menjawab : TIDAK TAHU..!

0 comments: