Sunday, December 17, 2006

Sepedaan lagi... menjelajah lagi....


Praktis sudah 2 bulan ndak pernah nggenjot sepedah, ternyata bener kata orang kalau lagi males mau mulai aja susahnya ndak karuan.
Padahal sejak setahun lalu ikutan nggenjot, sambil menikmati pemandangan sepertinya hobi baru ini jadi sesuatu yang ndak akan ditinggalkan.


Sebelum liburan akhir pekan jum'at kemaren, teman-2 kantor ngajak nyepedah targetnya ndak usah macem-macem, cari pemandangan yang indah, foto-2 and refreshing.
Akhirnya disepakati dengan rute Leces - Banyuanyar - Condong - Wangkal, yang kalau dihitung-hitung, jaraknya 60 KM pergi-pulang.
10 orang sudah siap di pos pemberangkatan dekat lapangan sepak bola, jam 5.30 start menuju "Emi", Malasan, Bladu, Banyuanyar, dan setelah itu harusnya masuk desa Klenang, tapi tengok pemandangan disebelah kanan..>>>>>


"Wuih, alas jati ini semakin menarik saja ya" ujar pak Riswandi sang Korlap.
Sebagaimana salah satu tujuan perjalanan ini, mengambil gambar alias berfoto di tempat yang menarik, dan disinilah salah satunya.

Akan lebih menarik lagi kalau menjelajah ke dalam hutan ini, sekalipun sempat dicegah, oleh seseorang di pintu masuk, karena menurutnya jalannya tidak layak untuk sepeda.
Ah kata siapa..??, batin kami semua, karena didepan mata nampak jalanan aspal mulus membelah hutan jati nan rimbun.
Hampir 2 kilo, dilalui dengan rasa takjub menikmati udara segar dibawah kerimbunan daun jati, akhirnya memasuki desa Tulupari jalan aspal berubah menjadi jalan berbatu.
Apa ini yang dikhawatirkan orang di pinggir hutan tadi ya..??, bisa jadi khan. tapi "ride must go on"

Lebih kurang 3 kilo, jalan berbatu dan agak sedikit menanjak sudah dilalui dan lama kelamaan batuan mulai menipis berganti dengan jalan tanah namun nampak jelas jejak kendaraan besar pernah melalui. Sehingga kami ikuti saja, dan jalanan semakin menanjak.
Sampai di desa Tegalwatu, jalur jalan sudah tak bisa dilewati tertimbun tanah gembur, karena sempat terguyur hujan pada 2 hari terakhir.
Kamipun berhenti, tengok kanan kiri sambil menunggu kalau-2 ada orang yang bisa diminta pendapatnya.
"lewat jalan ini bisa, tapi mending terus melalui jalan setapak di hutan" ujar seorang ibu dengan bahasa madura yang fasih.
Kamipun sempat foto-2 sejenak menggunakan fujipix punya mas Yoyok, sambil melepas lelah.
15 menit kemudian perjalanan dilanjutkan, dan petaka menimpa.
Ketika melewati gundukan tanah setinggi semeter, genjot aja tanpa mengukur kondisi otot kaki dan lupa melakukan operan gear. Hasilnya otot dibelakang lutut kaki kanan seperti ada yang menarik.
Ndak usah dihiraukan, pikirku dalam hati, akan tetapi pemandangan di depan tanjakan semakin tambah tegak, sekalipun sudah mulai nampak rumah dan perkampungan.
Sejak saat itu, genjotan kaki kanan jadi kurang optimal karena menahan nyeri kalau terbebani.


Beruntung karena perkampungan tegalwatu yang penuh tanjakan tidak sampai 5 kilo, dan lepas dari tegalwatu, sudah memasuki jalanan aspal yang menurun menuju desa klenang.
Dari perempatan desa Klenang terus ke utara, menuju Sumber Kledung, Sumber Bulu dan akhirnya bisa sampai kembali ke Leces.
Memasuki desa Klenang lor, ban belakang sempat bermasalah, karena terkena pecahan kaca, dan bocorlah dia.
Untung saja, tak jauh dari lokasi petaka, ada pertanda tambal ban. Namun sayang, si empunya bengkel lagi keluar kota. Waduh..???!!!
Akan tetapi perlengkapan dan bahan untuk vulkanisir ban dalam dengan hot system tampak lengkap tersedia. Dengan seijin penduduk sekitar, kami tambal sendiri, dan hasilnya pun o.k.
Alhamdulillah

5 comments:

Barry said...

ayo kayuh terus tuh sepeda biar sehat. lengkap banget ya outfitnya :)

Laks said...

wah jadi pingin ikutan naik sepeda juga... dah lama banget gak naik sepeda.

Paman Tyo said...

Genjot teroooossssss! Top nemen wis!

pancarAdis said...

pancen mantep! sehat tur dadi fresh!

A Yustiawan said...

Wuah...Top markotop....sepedaan menyisir hutan jati....(halah)jadi pingin nih mas..